AKHLAK

A. Akhlak yang Baik dan Buruk
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa komponen (utama) agama Islam Aqidah, Syari’ah dan Akhlak. Penggolongan ini bedasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad kepada malaikat Jibril didepan para sahabatnya mengenai arti Islam, Iman dan Ihsan yang ditanyakan Jibril kepada Nabi Muhammad, inti dari perkataan tersebut sama dengan yang terkandung dalam Aqidah, Syari’ah dan Akhlak.
Kata akhlak berasal dari Khilqun yang mengandung segi-segi penyesuaian khaliq dan makhluk. Dari sinilah asal perumusan Ilmu Akhlak yang merupakan timbulnya hubungan antara mahluk dan khalik, serta antara mahluk dengan mahluk lainnya. Sementara itu menurut imam Al-Ghazali akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia)yang dapat melahirkan perbuatanyang mudah dilakukan, tanpa melakukan banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama. Maka jika sifat tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut ketentuan akal, norma dan agama, dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan manakala sebaliknya melahirkan perbuatan yang buruk dan tercela, dinamakan akhlak yang buruk.
Pada dasarnya pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah akidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, karena akhlak tersarikan dari akidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu, jika seseorang berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika akidah salah dan melenceng maka akhlaknya pun akan tidak benar. Akidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkan-Nya. Adapun yang dapat menyempurnakan akidah yang benar terhadap Allah adalah berakidah dengan benar terhadap malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para Rasul dan percaya kepada Rasul-rasul utusan-Nya yang mempunyai sifat jujur dan amanah dalam menyampaikan risalah tuhan mereka. Di samping itu, akidah yang benar kepada Allah harus diikuti pula dengan akidah atau kepercayaan yang benar terhadap kekuatan jahat dan setan.
Selain itu yang mendorong manusia untuk durhaka kepada tuhannya adalah mereka pula yang ikut serta menghiasi manusia dengan kebatilan dan syahwat, Mereka juga merusak hubungan baik yang telah terjalin di antara sesamanya. Demikianlah tugas-tugas setan sesuai dengan yang telah digariskan Allah dalam penciptaannya, agar dia dapat memberikan pahala kepada orang-orang yang tidak mengikuti setan dan menyiksa orang yang menaatinya. Dan semua ini berlaku setelah Allah memperingatkan umat manusia dan mengancam siapa saja yang mematuhinya.
Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikannya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang akan mengantarkan mereka mendapatkan ridha Allah dan akan membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari Allah. Ketidakberesan dan adanya keresahan yang selalu menghiasi kehidupan manusia timbul sebagai akibat dari penyelewengan terhadap akhlak-akhlak yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penyelewengan ini tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada kesalahan dalam berakidah, baik kepada Allah, Malikat, rasul, kitab-kitab-Nya maupun hari Akhir.
Untuk menjaga kebenaran pendidikan akhlak dan agar seseorang selalu dijalan Allah yang lurus, yaitu jalan yang sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya, maka akidah harus dijadikan dasar pendidikan akhlak manusia.
Sebagaimana Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti Rahimahullah berkata: "Wajib atas orang berakal untuk menjadikan manusia cinta dengan cara selalu berakhlak baik dan meninggalkan akhlak buruk. Karena akhlak yang baik melebur kesalahan-kesalahan sebagaimana Matahari mencairkan es yang beku. Sesungguhnya akhlak yang buruk pasti akan merusak ilmu sebagaimana cuka merusak madu. Adakalanya pada diri seseorang terdapat banyak akhlak yang kesemuanya baik dan hanya satu akhlak yang buruk, maka akhlak yang buruk itu merusak semua akhlak baik tersebut." .
Para ulama Islam menjelaskan bahkan menekankan tentang apa yang diperhatikan oleh para penulis barat, yaitu bahwa akhlak yang baik adalah apa yang dinilai baik oleh akal dan syariat. Sedangkan akal saja tak cukup untuk menilai baik dan buruknya suatu perbuatan. Oleh karena itu, Allah mengutus para Rasul dan menurunkan pertimbangan (Kitab Suci) bersama mereka yang memperlakukan manusia dengan penuh keadilan.
Demikianlah, ukuran akhlak yang baik jika sesuai dengan syariat Allah. Berhak mendapatkan ridha-Nya dan dalam memegang akhlak yang baik ini sambil memperhatikan pribadi, keluarga, dan masyarakat, sehingga di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan akherat.
Mereka juga menyebutkan 4 sendi akhlak baik yang harus tertanam didalam jiwa dan memaknai dalam kehidupannya sehari-hari:
1. Sabar, yang mendorongmu menguasai diri, menahan amarah, tidak mengganggu orang lain dan lemah lembut.
2. Kehormatan diri, yang membuatmu menjauhi hal-hal yang hina dan buruk
3. Keberanian, yang mendorongmu pada kebesaran jiwa, sifat-sifat yang tinggi dan rela berkorban
4. Adil, yang membuatmu berada di jalan tengah, tidak meremehkan dan tidak berlebih-lebihan.
Sedangkan 4 sendi lainnya yang harus diperhatikan dan dijauhkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Kebodohan, yang menampakkan kebaikan dalam rupa keburukan, menampakkan keburukan dalam rupa kebaikan, menampakkan kekurangan dalam rupa kesempurnaan, menampakkan kesempurnaan dalam rupa kekurangan
2. Kezaliman, yang membuatmu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya dan meridhoi sesuatu yang mestinya tidak diperbolehkan
3. syahwat yang mendorongmu menghendaki sesuatu, kikir, bakhil, tidak menjaga kehormatan, rakus dan hina
4. marah yang mendorongmu bersikap takabur, dengki, iri, mengadakan permusuhan dan menganggap orang lain bodoh.

0 komentar:


Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com and Porsche Cars. Powered by Blogger